Jurnal Pendidikan: Cara Mudah Menulis dan Menerbitkannya
Menulis jurnal pendidikan bukan lagi monopoli profesor atau peneliti senior. Di 2026, banyak guru, mahasiswa S1, bahkan praktisi pendidikan non-formal berhasil menembus jurnal terindeks nasional maupun internasional — dengan modal ketekunan dan strategi yang tepat. Faktanya, lonjakan jumlah penulis baru di bidang pendidikan terus meningkat setiap tahunnya, seiring terbukanya akses ke platform penerbitan open access.
Masalahnya, tidak sedikit yang menyerah di tengah jalan. Bukan karena risetnya kurang mumpuni, tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana. Struktur penulisan yang membingungkan, pilihan jurnal yang salah, hingga revisi tanpa ujung menjadi tembok penghalang yang sering diceritakan banyak penulis pemula.
Nah, panduan ini hadir untuk memotong jalur belajar tersebut. Kita akan bahas dari cara menyusun naskah yang solid sampai strategi memilih jurnal yang sesuai — langkah demi langkah, tanpa jargon berlebihan.
Cara Menulis Jurnal Pendidikan yang Kuat dari Awal
Sebelum menyentuh keyboard, ada satu pertanyaan yang harus dijawab dulu: masalah apa yang ingin Anda selesaikan? Jurnal pendidikan yang kuat selalu berangkat dari gap penelitian yang nyata — bukan sekadar topik yang menarik secara personal.
Tentukan Fokus dan Rumusan Masalah yang Spesifik
Topik terlalu luas adalah jebakan klasik. “Pengaruh teknologi terhadap pendidikan” terlalu umum. Coba persempit menjadi: “Efektivitas penggunaan aplikasi kuis interaktif terhadap motivasi belajar siswa kelas 4 SD di daerah rural.” Semakin spesifik rumusan masalah, semakin mudah menentukan metode, sampel, dan arah analisis.
Pastikan rumusan masalah Anda bisa dijawab dengan data — baik kualitatif maupun kuantitatif. Jurnal pendidikan tanpa data yang valid cenderung langsung ditolak di tahap desk review, bahkan sebelum masuk ke reviewer.
Susun Kerangka IMRaD dengan Benar
Struktur IMRaD (Introduction, Method, Results, and Discussion) adalah tulang punggung hampir semua jurnal ilmiah pendidikan. Bagian Introduction harus memuat latar belakang, kajian literatur singkat, dan tujuan penelitian. Metode wajib cukup detail agar penelitian bisa direplikasi.
Bagian Results dan Discussion sering dicampuradukkan penulis pemula. Ingat: Results berisi temuan faktual, Discussion adalah tempat Anda menginterpretasikan dan membandingkan dengan penelitian sebelumnya. Pisahkan keduanya dengan tegas.
Strategi Menerbitkan Jurnal Pendidikan Tanpa Salah Arah
Menulis naskah yang bagus baru separuh perjuangan. Separuhnya lagi adalah menempatkan naskah tersebut di jurnal yang tepat. Salah memilih jurnal bisa berujung penolakan instan bukan karena kualitas tulisan, tapi karena ketidakcocokan scope.
Pilih Jurnal Sesuai Scope dan Reputasi
Mulailah dengan membaca aims and scope jurnal yang Anda incar. Jurnal pendidikan di Indonesia kini banyak yang terindeks SINTA (Science and Technology Index), dari SINTA 1 sampai SINTA 6. Untuk pemula, menarget SINTA 3–4 adalah titik awal yang realistis dan strategis.
Cek juga rekam jejak jurnal tersebut: seberapa cepat proses review, apakah ada biaya APC (Article Processing Charge), dan bagaimana kualitas artikel yang sudah terbit. Platform seperti Garuda Kemdikbud atau Google Scholar bisa membantu proses seleksi ini.
Perhatikan Panduan Penulisan dan Proses Submission
Setiap jurnal punya template dan gaya sitasi berbeda — ada yang pakai APA 7th, ada yang Chicago, ada yang custom. Mengabaikan panduan penulisan adalah alasan penolakan paling sepele tapi paling sering terjadi.
Menariknya, banyak jurnal kini sudah menggunakan sistem Open Journal Systems (OJS) yang memudahkan proses submission online. Unggah semua dokumen yang diminta: naskah utama, surat pernyataan orisinalitas, dan cover letter yang menjelaskan kontribusi penelitian Anda secara ringkas.
Kesimpulan
Menulis jurnal pendidikan memang butuh proses, tapi bukan sesuatu yang mustahil dikuasai. Kuncinya ada di dua hal: naskah yang terstruktur dengan rumusan masalah yang tajam, dan pemilihan jurnal yang sesuai scope serta level reputasinya. Dua hal ini yang paling sering diabaikan, dan paling sering jadi penyebab penolakan.
Jadi, mulailah dari satu langkah konkret hari ini. Pilih satu masalah nyata di lapangan pendidikan yang Anda amati, rumuskan dengan spesifik, lalu bangun naskah di atas kerangka IMRaD yang solid. Proses penerbitan jurnal pendidikan akan terasa jauh lebih ringan ketika fondasinya sudah benar sejak awal.
FAQ
Berapa lama proses review jurnal pendidikan di Indonesia?
Rata-rata proses review jurnal pendidikan nasional berlangsung antara 1 hingga 4 bulan, tergantung kebijakan jurnal. Beberapa jurnal SINTA 2 bisa lebih lama karena antrian naskah yang panjang.
Apakah jurnal pendidikan harus berbasis penelitian eksperimen?
Tidak harus. Jurnal pendidikan menerima berbagai pendekatan: penelitian kualitatif, studi kasus, penelitian tindakan kelas (PTK), hingga kajian literatur sistematis — selama metodologinya jelas dan relevan dengan topik.
Apa perbedaan jurnal pendidikan SINTA 1 dan SINTA 6?
SINTA 1 adalah peringkat tertinggi dengan standar kualitas dan selektivitas paling ketat, biasanya terindeks internasional. SINTA 6 adalah peringkat dasar yang cocok untuk penulis pemula yang baru memulai perjalanan publikasi ilmiah.






